Sabtu, 30 Maret 2013

Pendekatan Historis dalam Mengapresiasi Sastra



PENGANTAR

Pendekatan sebagai suatu prinsip dasar atau landasan yang digunakan oleh seseorang sewaktu mengapresiasi karya sastra dapat bermacam-macam. Keanekaragaman pendekatan yang digunakan itu dalam hal ini lebih banyak ditentukan oleh tujuan dan apa yang akan diapresiasi lewat teks sastra yang dibacanya, kelangsungan apresiasi itu terproses oleh kegiatan bagaimana, dan landasan teori yang digunakan dalam kegiatan apresiasi. Pemilihan dan penentuan pendekatan tersebut tentu sangat ditentukan oleh tujuan mengapresiasi itu sendiri.
Bertolak dari tujuan dan apa yang akan diapresiasi, pembaca dapat menggunakan sejumlah pendekatan meliputi pendekatan parafrastis, pendekatan emotif, pendekatan analitis, pendekatan historis, pendekatan sosiopsikologis, dan pendekatan didaktis.
Disini akan dibahas dua pendekatan, yaitu pendekatan historis dan pendekatan sosiopsikologis. Pendekatan historis yaitu mengapresiasi karya sastra dilihat dari biografi pengarang dan kesejarahannya. Pendekatan sosiopsikologis yaitu mengapresiasi karya sastra dilihat dari latar belakang sosial dan kehidupan masyarakat pada saat karya sastra tersebut diciptakan.


PENDEKATAN HISTORIS DAN PENDEKATAN SOSIOPSIKOLOGIS

A.      Pendekatan Historis
Pendekatan historis adalah suatu pendekatan yang menekankan pada pemahaman tentang biografi pengarang, latar belakang peristiwa kesejarahan yang melatarbelakangi masa-masa terwujudnya cipta sastra yang dibaca serta tentang bagaimana perkembangan kehidupan penciptaan maupun kehidupan sastra itu sendiri pada umumnya dari zaman ke zaman.
Prinsip dasar yang melatarbelakangi lahirnya pendekatan ini adalah anggapan bahwa cipta sastra bagaimanapun juga merupakan bagian dari zamannya. Selain itu, pemahaman terhadap biografi pengarang juga sangat penting dalam upaya memahami kandungan dalam suatu cipta sastra. Sebab itulah telaah makna suatu teks dalam pendekatan sosiosemantik sangat mengutamakan konteks, baik konteks sosio-budaya, situasi atau zaman maupun konteks kehidupan pengarangnya sendiri.
Dalam telaah karya sastra lewat pendekatan historis ini, pembaca dapat memanfaatkan berbagai informasi kesejarahan tambahan, pembaca juga dapat melihat pada keterangan tentang biografi pengarang yang terdapat dibagian belakang maupun esei-esei tentang kehidupan pengarang yang terdapat dalam buku-buku kumpulan karangan maupun majalah dan koran.
Penyebab utama lahirnya karya sastra adalah penciptanya sendiri yaitu sang pengarang. Itulah sebabnya penjelasan tentang kepribadian dan kehidupan pengarang adalah metode tertua dan paling mapan dalam studi sastra. Biografi hanya bernilai sejauh memberi masukan tentang penciptaan karya sastra. Tetapi biografi juga dapat dinikmati karena mempelajari hidup pengarang yang jenius, menelusuri perkembangan moral, mental, dan intelektualnya yang tentu menarik.
Tiga sudut pandangan yang relevan dengan studi sastra, yaitu :
1.        Menanggap bahwa biografi menerangkan dan menjelaskan proses penciptaan karya sastra yang sebenarnya.
2.        Mengalihkan pusat perhatian dari karya ke pribadi pengarang.
3.        Memperlakukan biografi sebagai bahan untuk ilmu pengetahuan atau psikologi penciptaan artistik.
B.       Pendekatan Sosiopsikologis
Pendekatan sosio-psikologis adalah suatu pendekatan yang berusaha memahami latar belakang kehidupan sosial-budaya, kehidupan masyarakat, maupun tanggapan kejiwaan atau sikap pengarang terhadap lingkungan kehidupannya ataupun zamannya pada saat cipta sastra itu diwujudkan. Dalam pelaksanaannya, pendekatan ini memang sering tumpang tindih dengan pendekatan historis. Akan tetapi, selama masalah yang akan dibahas untuk setiap pendekatan itu dibatasi dengan jelas, maka ketumpangtindihan itu pasti dapat dihindari.
Jika dalam pendekatan historis kita dapat membahasnya lewat pembahasan tentang biografi pengarang, peristiwa kesejarahan yang terjadi pada masa itu serta telaah tentang bagaimana perkembangan ataupun hubungan karya sastra sebelumnya maupun dengan perkembangan karya sastra pada umumnya. Maka dalam pendekatan sosio-psikologis, apresiator berusaha memahami bagaimana kehidupan sosial masyarakat pada masa itu, bagaimana sikap pengarang terhadap lingkungannya, serta bagaimana hubungan antara cipta sastra itu dengan zamannya.
Sehubungan dengan penerapan pendekatan sosio-psikologis itu, terdapat anggapan bahwa cipta sastra merupakan kreasi manusia yang terlibat dalam kehidupan serta mampu menampilkan tanggapan evaluatif terhadapnya. Sebab itulah dengan mengutip pendapat Grebstein, Sapardi Djokodamono mengungkapkan bahwa karya sastra tidak dapat dipahami selengkap-lengkapnya apabila dipisahkan dari lingkungan atau kebudayaan.
Sosiologi sastra mempunyai kekurangan, yakni terlalu cenderung pada historisme. Sastra yang bersifat sosial hanya merupakan satu ragam sastra dari banyak ragam lainnya. Sifat sosial bukan merupakan inti teori sastra, kecuali kalau kita beranggapan bahwa sastra pada dasarnya adalah “tiruan” hidup dan kehidupan sosial. Tetapi sastra jelas bukan pengganti sosiologi atau politik. Sastra mempunyai tujuan alasan keberadaannya sendiri.
Sosiologi sastra dengan psikologi sastra sebab objeknya sama, yaitu manifestasi manusia yang teridentifikasi dalam sebuah karya. Perbedaannya, objek sosiologi sastra adalah manusia dalam masyarakat, sebagai transindividual, tingkah laku sebagai manifestasi psikologi. Sosiologi sastra memandang karya satra sebagai interaksi pengarang dengan masyarakat, sebagai kesadaran kolektif, sedangkan psikologi sastra memandang sastra sebagai rekaman keistimewaan individu, sebagai kesadaran personal.
Karena itulah, aspek-aspek psikologi bermanfaat bagi sosiologi sastra apabila memiliki nilai historis yang berhubungan dengan aspek-aspek kemanusiaan secara keseluruhan. Teori-teori psikologi sastra yang bermanfaat dalam memahami karya sastra karena dikaitkan dengan karya seni sebagai manifestasi introver dan neurosis, sebagai akibat manusia yang tidak bisa menerima kenyataan sehari-hari.
Menurut Daiches (1956: 340-357) mengemukakan prinsip-prinsip psikologi dimanfaatkan dalam analisis karya sastra melalui tiga cara yaitu :
a.         Melalui Pengarang
Cara pertama ini disebut kritik ekpresif, sebab melukiskan eksistensi subjek kreator sebagai subjek individual, khususnya kaitan antara sikap pengarang dengan karya yang dihasilkannya.
b.        Melalui Semestaan Tokoh-Tokoh
Cara yang kedua disebut sebagai kritik objektif, dengan memusatkan perhatian pada psikologi tokoh-tokoh, khususnya manifestasi karakterisasi sebagai representasi karaktelogi.

c.         Melalui Citra Arketipe
Cara ketiga disebut ktitik arketipe, sebab analisis di pusatkan pada genesis psikologis, khususnya mengenai eksistensi ketaksadaran kolektif.
Dalam penelitian tradisional, baik sosilogi sastra maupun psikologi sastra termasuk aspek-aspek ekstrinsik (Wellek dan Werren, 1962 : 73-135). Aspek-aspek ekstrinsik adalah keseluruhan aspek karya yang berada diluar aspek intrinsik, termasuk biografi pengarang. Di antara aspek-aspek ekstrinsik yang lain, aspek sosiologi termasuk salah satu aspek yang terpenting. Latar belakang sosio-budaya, misalnya dianggap sebagai indikator utama lahirnya sebuah karya sekaligus mengkondisikan keseluruh aspek yang terkandung di dalamnya.
Menurut Wellek dan Werren (ibid.), baik psikologi satra maupun sosologi sastra memberikan tiga kemungkinan utama dalam analisis, yaitu :
a.       Analisis pengarang sebagai pencipta;
b.      Analisisi karya sastra itu sendiri;
c.       Analisis pembaca.
Analisis psikologis cenderung memandang subjek kreator sebagai individu yang berbeda, memiliki keistimewaan, keunikan, kejeniusan. Sebaliknya, menurut paradigma sosiologi sastra pengarang merupakan manusia biasa. Kemampuannya terletak dalam mengkompilasikan dan menyeleksi fakta sosial, proses kreatif memiliki kesejajaran dengan interaksi sosial yang lain. Karena itu, kreativitas seni dianggap sebagai proses yang wajar bahkan alamiah.

KESIMPULAN

Pendekatan historis yaitu pendekatan mengapresiasi karya sastra yang dilihat dari biografi pengarang dan kesejarahan yang melatarbelakangi terwujudnya karya sastra tersebut. Sedangak pendekatan sosiopsikologis yaitu pendekatan mengapresiasi karya sastra yang dilihat dari latar belakang sosial dan kehidupan masyarakat pada saat karya sastra tersebut diciptakan.
Sosiologi sastra mempunyai kekurangan, yakni terlalu cenderung pada historisme. Sastra yang bersifat sosial hanya merupakan satu ragam sastra dari banyak ragam lainnya. Sifat sosial bukan merupakan inti teori sastra, kecuali kalau kita beranggapan bahwa sastra pada dasarnya adalah “tiruan” hidup dan kehidupan sosial. Tetapi sastra jelas bukan pengganti sosiologi atau politik. Sastra mempunyai tujuan alasan keberadaannya sendiri.
Pemahaman terhadap sosiolgi dan psikologi sastra, sebagai polarisasi dua disiplin yang berbeda dalam menaganalisis objek yang sama, yaitu sebuah karya sastra. Dengan kalimat lain, aspek-aspek psikologi yang bermanfaat dalam analisis sosiologi sastra adalah aspek-aspek psikologi sosial.



DAFTAR PUSTAKA

Aminuddin. 2002. Pengantar Apresiasi Karya Sastra. Bandung: Sinar Baru Algensindo.
Ratna, Nyoman Kutha. 2003. Paradigma Sosiologi Sastra. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Syahri. 2012. Jenis-Jenis Pendekatan Dalam Apresiasi Sastra. http://rukusama.blogspot.com/. 05 Januari 2012.
Welek, R. & Warren, A. 1989. Teori Kesusastraan. Jakarta: PT Gramedia.








Tidak ada komentar:

Poskan Komentar