Sabtu, 30 Maret 2013

Apresiasi dan Kajian Prosa Fiksi



BAB II
PEMBAHASAN

A.           Pengertian Prosa Fiksi
Karya satera menurut ragamnya dibedakan atas prosa, puisi, dan drama. Karya sastera fiksi atau ada yang menyebut ceitera rekaan, merupakan salah satu jenis karya sastera yang beragam prosa.
Kata prosa diambil dari bahasa Inggris, prose. Kata ini sebenarnya menyaran pada pengertian yang lebih luas, tidak hanya mencakup pada tulisan yang digolongkan sebagai karya sastra, tapi juga karya non fiksi, seperti artikel, esai, dan sebagainya. Agar tidak terjadi kekeliruan, pengertian prosa pada buku ini dibatasi pada prosa sebagai genre sastra. Dalam pengertian kesastraan, prosa sering diistilahkan dengan fiksi (fiction), teks naratif (narrative text) atau wacana naratif (narrative discourse). Prosa yang sejajar dengan istilah fiksi (arti rekaan) dapat diartikan : karya naratif yang menceritakan sesuatu yang bersifat rekaan, tidak sungguh-sungguh terjadi di dunia nyata. Tokoh, peristiwa dan latar dalam fiksi bersifat imajiner. Hal ini berbeda dengan karya nonfiksi. Dalam nonfiksi tokoh, peristiwa, dan latar bersifat faktual atau dapat dibuktikan di dunia nyata (secara empiris).
Prosa fiksi sebagai cerita rekaan bukan berarti prosa fiksi adalah lamunan kosong seorang pengarang. Prosa fiksi adalah perpaduan atau kerja sama antara pikiran dan perasaan. Fiksi dapat dibedakan atas fiksi yang realitas dan fiksi yang aktualitas. Prosa selalu bersumber dari lingkungan kehidupan yang dialami, disaksikan, didengar, dan dibaca oleh pengarang. Prosa fiksi dapat menyampaikan informasi mengenai suatu kejadian dalam kehidupan. Maknanya dapat berarti ambigu. Prosa fiksi melukiskan realita imajinatif karena imajinasi selalu terikat pada realitas, sedangkan realitas tak mungkin lepas dari imajinasi. Bahasanya lebih condong ke bahasa figuratif dengan menitikberatkan pada penggunaan kata-kata konotatif. Selanjutnya prosa fiksi mengajak kita untuk berkontemplasi karena sastra menyodorkan interpretasi pribadi yang berhubungan dengan imajinasi.
Prosa Fiksi adalah kisahan atau ceritera yang diemban oleh palaku-pelaku tertentu dengan pemeranan, latar serta tahapan dan rangkaian ceritera tertentu yang bertolak dari hasil imajinasi pengarangnya sehingga menjalin suatu ceritera. (aminuddin, 2002:66). Sedangkan M. Saleh Saad dan Anton M. Muliono (dalam Tjahyono, 1988:106) mengemukakan pengertian prosa fiksi (fiksi, prosa narasi, narasi, ceritera berplot, atau ceritera rekaan disingkat cerkan) adalah bentuk ceritera atau prosa kisahan yang mempunyai pemeran, lakuan, peristiwa, dan alur yang dihasilkan oleh daya imajinasi.
Pengertian lain dikemukakan oleh Sudjiman, (1984:17) yang menyebut fiksi ini dengan istilah ceritera rekaan, yaitu kisahan yang mempunyai tokoh, lakuan, dan alur yang dihasilkan oleh daya khayal atau imajinasi, dalam ragam prosa. Logika dalam prosa fiksi adlah logika imajnatif, sedangkan logika dalam nonfiksi adalah logika factual. Prosa fiksi dapat dibedakan atas pendek dan novel. Ada juga yang memilahnya menjadi tiga, selain cerpen, dan noel, tersebut juga istilah roman. Nurgiantoro (2000:10) MENGUTIP Edgar Alan Poe yang mengatakan cerpen merupakan prosa fiksi yang dibaca selesai sekali duduk, kira-kira berkisar antara setengah jam sampai dua jam, yang agak sulit jika dilakukan untuk sebuah novel. Sudjiman (1984:14) mengemukakan bahwa ceritera pendek adalah kisahan pendek (kurang dari 10.000 kata) yang memberikan kesan tunggal dominan.
Plot cerpen biasanya tungggal, hanya terdiri dari satu urutan peristiwa, dan urutan peristiwa biasanya terjadi dari mana saja. Kalaupun ada perkenalan tokoh dan latar, tidak berkepanjangan. Karena plot tunggal, konflik dan klimak pun biasanya bersifat tunggal pula.
Tema dalam ceritera pendek biasanya hanya berisi satu tema. Hal itu berkaitan dengan keadaan plot yang juga tunggal dan pelaku yang terbatas. Sebaliknya, novel dapat saja menawarkan lebih dari satu tema, yaitu satu tema utama dan tema-tema tambahan.
Penokohan cerpen hanya terbatas, apalagi yang bersetatus tokoh utama. Tokoh cerpen terbatas baik jumlah maupun data-data tokoh, misalnya terkait dengan perwatakan. Dengan demikian pembaca harus menyimpulkan dan menerka sendiri perwatakan lengkap yang muncul dalam cerpen.
Pelukisan latar cerpen tidak memerlukan detil khusus tentang keadaan luar, misalnya tentang tempat dan sosial. Cerpen hanya memerlukan pelukisan secara garis besar saja atau bahkan secara implisit asal telah mampu memberikan suasana tertentu yang dimaksudkan (Nurgianytoro, 2000:13).
Cerpen lebih biasanya mendukung unity. Artinya segala sesuatu yang diceritakan mendukung tema utama. Semua unsur pembentuk cerpen harus saling berkaitan. Pencapaian kepaduan cerpen lebih mudah dicapai. Dalam novel agak sulit karena biasanya novel terbagi atas bab yang masing-masing berisi cerita yang berbeda.
Novel berasa dari kata novella (Italia) yang secara harfiah berarti ”sebuah barang baru yang kecil”. Novel pengertian menurut Sudjiman (1998:53) prosa rekaan yang panjang, yang menyuguhkan tokoh-tokoh dan menampilkan serangkaian peristiwa dan latar secara tersusun.
Plot novel, karena tidak keterkaitan dengan panjangnya tulisan, umumnya memiliki lebih dari satu plot. Plot novel biasanya terdiri plot utama dan subplot.
Tema dalam novel tidak menutup kemungkinan terdiri atas lebih dari satu tema, yaitu tema utama dan tema-tema tambahan.
Tokoh-tokoh dalam novel biasanya diceritakan lebih lengkap, misalnya cirri-ciri fisik, keadaan sosial, tingkah laku, sifat dan kebiasaan.
Pelukisan latar dalam novel, umumnya lebih rinci, sehingga dapat menggambarkan latar lebih jelas, konkret dan pasti.

B.            Jenis-jenis Prosa Fiksi
1.        Prosa Modern
Dari khasanah sastra modern, kita mengenal Ada beberapa jenis karya prosa fiksi, yaitu novel, novelet, dan cerita pendek (cerpen).
1)         Cerita Pendek (cerpen) Sesuai dengan namanya, cerita pendek dapat diartikan sebagai cerita berbentuk prosa yang pendek. Ukuran pendek di sini bersifat relatif. Menurut Edgar Allan Poe, sastrawan kenamaan Amerika, ukuran pendek di sini adalah selesai dibaca dalam sekali duduk, yakni kira-kira kurang dari satu jam. Adapun Jakob Sumardjo dan Saini K.M (1995:30) menilai ukuran pendek ini lebih didasarkan pada keterbatasan pengembangan unsur-unsurnya. Cerpen memiliki efek tunggal dan tidak kompleks. Cerpen ,dilihat dari segi panjangnya, cukup bervariasi. Ada cerpen yang pendek (short short story), berkisar 500-an kata; ada cerpen yang panjangnya cukupan (middle short story), dan ada cerpen yang panjang (long short story) biasanya terdiri atas puluhan ribu kata. Dalam kesusastraan di Indonesia, cerpen yang diistilahkan dengan short short story, disebut dengan cerpen mini. Sudah ada antologi cerpen seperti ini, misalnya antologi : Ti Pulpen Nepi Ka Pajaratan Cinta. Contoh untuk cerpen-cerpen yang panjangnya sedang (middle short story) cukup banyak. Cerpen-cerpen yang dimuat di surat kabar adalah salah satu contohnya.. Adapun cerpen yang long short story biasanya cerpen yang dimuat di majalah. Cerpen „”Sri Sumariah” dan “Bawuk” karya Umar Khayam juga termasuk ke dalam cerpen yang panjang ini.

2)         Novelet Di dalam khasanah prosa, ada cerita yang yang panjangnya lebih panjang dari cerpen, tetapi lebih pendek dari novel. Jadi, panjangnya antara novel dan cerpen. Jika dikuantitaatifkan, jumlah dan halamannya sekitar 60 s.d 100 halaman. Itulah yang disebut novelet. Dalam penggarapan unsur-unsurnya : tokoh, alur, latar, dan unsur-unsur yang lain, novelet lebih luas cakupannya dari pada cerpen. Namun, dimaksudkan untuk memberi efek tunggal.

3)         Novel Kata novel berasal dari bahasa Italia, novella, yang berati barang baru yang kecil. Pada awalnya, dari segi panjangnya noovella memang sama dengan cerita pendek dan novelet. Novel kemudian berkembang di Inggris dan Amerika. Novel di wilayah ini awalnya berkembang dari bentuk-bentuk naratif nonfiksi, seperti surat, biografi, dan sejarah. Namun seiring pergeseran masyarakat dan perkembangan waktu, novel tidak hanya didasarkan pada data-data nonfiksi, pengarang bisa mengubah novel sesuai dengan imajinasi yang dikehendakinya.  Yang membedakan novel dengan cerpen dan novelet adalah segi panjang dan keluasan cakupannya. Dalam novel, karena jauh lebih panjang, pengarang dapat menyajikan unsur-unsur pembangun novel itu: tokoh, plot, latar, tema, dll. secara lebih bebas, banyak, dan detil. Permasalahan yang diangkatnya pun lebih kompleks Dengan demikian novel dapat diartikan sebagai cerita berbentuk prosa yang menyajikan permasalahn-permasalahan secara kompleks, dengan penggarapan unsur-unsurnya secara lebih luas dan rinci.

4)         Roman Kehadiran dan keberadaan roman sebenarnya lebih tua dari pada novel. Roman (romance) berasal dari jenis sastra epik dan romansa abad pertengahan. Jenis sastra ini banyak berkisah tentang hal-hal yang sifatnya romantik, penuh dengan angan-angan, biasanya bertema kepahlawanan dan percintaan. Istilah roman dalam sastra Indonesia diacu pada cerita-cerita yang ditulis dalam bahasa roman (bahasa rakyat Prancis abad pertengahan) yang masuk ke Indonesia melalui kesusastraan Belanda. Di Indonesia apa yang diistilahkan dengan roman, ternyata tidak berbeda dengan novel, baik bentuk, maupun isinya. Oleh karena itu, sebaiknya istilah roman dan novel disamakan saja. Cerpen, novel/roman, dan novelet di atas berjenis-jenis lagi. Penjenisan itu dapat dilihat dari temanya, alirannya, maupun dari kategori usia pembaca. Terkait dengan penjenisan berdasarkan kategori usia pembaca, kita mengenal pengistilahan sastra anak, sastra remaja, dan sastra dewasa. Begitu pula dengan jenis prosa di atas, baik cerpen, novel, maupun novelet. Penjenisan itu disesuaikan dengan karakteristik usia pembacanya, baik dari segi isi, maupun penyajiannya. Sebagai contoh, sastra anak (cerpen anak, novel anak) dari segi isinya akan menyuguhkan persoalan-persoalan dan cara pandang sesuai dengan dunia anak-anak. Begitu pula dengan penyajiannya, yang menggunakan pola penyajian dan berbahasa sederhana yang dapat dipahami anak-anak. Sastra remaja pun demikian, persoalan dan penyajiannya adalah sesuai dengan dunia remaja, seperti percintaan, persahabatan, petualangan, dan lain-lain. Sesuai dengan lingkup materi yang terdapat dalam kurikulum, pembahasan jenis prosa di atas akan dibatasi pada cerpen anak dan novel remaja.

2.        Cerita Anak
Cerita anak, baik karya asli Indonesia, maupun terjemahan, mencakup rentang umur pembaca yang beragam, mulai rentang 3-5 tahun, 6-9 tahun, dan 10-12 tahun (bahkan 13 dan 14) tahun. Adapun bentuknya bermacam-macam, baik serial, cerita bergambar, maupun cerpen. Tema cerita anak juga beragam, mulai dari persahabatan, lingkungan, kemandirian anak, dan lain-lain. Sifatnya juga beragam. Dari segi sifatnya, cerita anak dalam khasanah sastra modern terdiri atas:
1). cerita keajaiban, yakni cerita sihir dan peri yang gaib, yang biasanya melibatkan pula unsur percintaan dan petualangan. Contoh: Cinderella, Puteri Salju, Puteri Tidur, Tiga Keinginan, dan lain-lain.
2). cerita fantasi, yaitu cerita yang menggambarkan dunia yang tidak nyata, dunia yang dibuat sangat mirip dengan kenyataan dan menceritakan hal-hal aneh dan menggambarkan suasana yang asing dan peristiwa-peristiwa yang sukar diterima akal. Macam-macamnya adalah: fantasi binatang, fantasi mainan dam boneka, fantasi dunia liliput, fantasi tentang alam gaib, dan fantasi tipu daya waktu.
3). cerita fiksi ilmu pengetahuan, yakni cerita dengan unsur fantasi yang didasarkan pada hipotesis tentang ramalan yang masuk akal berdasarkan pengetahuan, teori, dan spekulasi ilmiah, misalnya cerita tentang petualangan di planet lain, makhluk luar angkasa, dan sejenisnya.
Sumber-sumber cerita anak cukup luas, baik berupa buku, maupun cerita-cerita yang disajikan di majalah anak-anak, dan koran-koran yang memiliki sisipan rubrik anak-anak. Di Indonesia, para pengarang cerita anak antara lain: Toha Mohtar, Mansur Samin, Titie Said, E. Siswojo, A. Djan, Triwahyono, Nimas Heming, Slamet Manshuri, Ayu Widuri, Dian Pratiwi, Heroe Soekarto, Radar Panca Dahana, Toety Mukhlih, Arif Maulana, Soekardi, Tetet Cahyati, Dorothea Rosa Herliany, dan masih banyak lagi.

3.        Novel Remaja
Novel remaja adalah novel yang ditulis untuk segmen pembaca remaja. Oleh karena yang ditujunya remaja, maka isi dan penyajiannya pun disesuaikan dengan dunia remaja.
Dari segi isinya, novel remaja biasanya berkisah tentang percintaan, persahabatan, permusuhan, atau petualangan. Bahasanya adalah bahasa khas remaja yang mengacu pada bahasa gaul: bahasa khas remaja kota. Dilihat dari jenis ceritanya, ada novel detektif, petualangan, juga novel drama. Dalam perkembangan sastra akhir-akhir ini, novel remaja dapat dikatakan mengalami booming. Begitu banyak novel remaja diterbitkan, begitu banyak penulis remaja, dan begitu banyak pula pembacanya sehingga banyak novel remaja dicetak ulang, dan banyak penulis remaja yang kewalahan meladeni pesanan penerbit. Novel remaja yang sedang booming akhir-akhir ini adalah novel remaja yang disebut chicklit dan teenlit. chicklit singkatan dari chick literatur, artinya karya sastra yang bercerita tentang wanita. Tetapi, chicklit lebih sering didefinisikan sebagai karya sastra populer yang bercerita tentang kehidupan sehari-hari sorang wanita lajang kota serta pola pikirnya yang modern. Chicklit disajikan dengan ringan, menghibur, dan bertutur tidak formal. Chicklit diarahkan pada gadis dewasa (17-26 tahun). Adapun teenlit singkatan dari teenager literatur, diarahkan pada remaja yang lebih belia, seusia anak SMP. Dari sejarah kelahirannya, tak ada yang dapat memastikan pelopor pertama lahirnya chicklit dan teenlit ini. Ada yang menyebut pelopor genre ini adalah novelis Helen Fielding dari Amerika Serikat lewat karyanya yang berjudul Bridget Jones’s Diary. Tetapi, beberapa kritikus menyebutkan J.K Rowling-lah yang memeloporinya lewat karyanya Harry Potter. Di Indonesia sendiri, jenis novel ini identik dengan kehidupan remaja di era globalisasi. Para penulisnya kebanyakan adalah para penulis yang rata-rata juga masih remaja, sehingga sangat paham dunia remaja. Di tengah maraknya novel-novel remaja yang beragam saat ini yang ditulis untuk beragam kepentingan, untuk bahan dan sumber pembelajaran di kelas, para guru hendaknya selektif dalam memilihnya. Selain pertimbangan dari segi kesesuaiannya dengan tahap perkembangan psikologi siswa, para guru hendaknya mempertimbangkan pula aspek didaktik dan etik karena banyak novel remaja yang ditulis dengan lebih mengedepankan aspek komersial dengan berani melanggar aspek didaktik dan etik ini.

4.        Prosa Lama
Yang dimaksud dengan istilah prosa lama di sini adalah karya prosa yang hidup dan berkembang dalam masyarakat lama Indonesia, yakni masyarakat tradisional. di wilayah Nusantara. Jenis sastra ini pada awalnya muncul sebagai sastra lisan. Di antara jenis-jenis prosa lama itu adalah mite, legenda, fabel, hikayat, dan lain-lain. Jenis-jenis prosa lama tersebut sering pula diistilahkan dengan folklor (cerita rakyat), yakni cerita dalam kehidupan rakyat yang diwariskan dari generasi ke generasi secara lisan. Dalam istilah masyarakat umum, jenis-jenis tersebut sering disebut dengan dongeng.
1). Dongeng, adalah cerita yang sepenuhmya merupakan hasil imajinasi atau khayalan pengarang di mana yang diceritakan seluruhnya belum pernah terjadi.

2). Fabel adalah cerita rekaan tentang binatang dan dilakukan atau para pelakunya binatng yang diperlakukan seperti manusia. Contoh: Cerita Si Kancil yang Cerdik, Kera Menipu Harimau, dan lain-lain.

3). Hikayat adalah cerita, baik sejarah, maupun cerita roman fiktif, yang dibaca untuk pelipur lara, pembangkit semangat juang, atau sekedar untuk meramaikan pesta. Contoh; Hikayat Hang Tuah, Hikayat Seribu Satu Malam, dan lain-lain.

4). Legenda adalah dongeng tentang suatu kejadian alam, asal-usul suatu tempat, benda, atau kejadian di suatu tempat atau daerah. Contoh: Asal Mula Tangkuban Perahu, Malin Kundang, Asal Mula Candi Prambanan, dan lain-lain.

5). Mite adalah cerita yang mengandung dan berlatar belakang sejarah atau hal yang sudah dipercayai orang banyak bahwa cerita tersebut pernah terjadi dan mengandung hal-hal gaib dan kesaktian luar biasa. Contoh: Nyi Roro Kidul.

6). Cerita Penggeli Hati, sering pula diistilahkan dengan cerita noodlehead karena terdapat dalam hampir semua budaya rakyat. Cerita-cerita ini mengandung unsur komedi (kelucuan), omong kosong, kemustahilan, ketololan dan kedunguan, tapi biasanya mengandung unsur kritik terhadap perilaku manusia/mayarakat. Contohnya adalah Cerita Si Kabayan, Pak Belalang, Lebai Malang, dan lain-lain.

7). Cerita Perumpamaan adalah dongeng yang mengandung kiasan atau ibarat yang berisi nasihat dan bersifat mendidik. Sebagai contoh, orang pelit akan dinasihati dengan cerita seorang Haji Bakhil.

8). Kisah adalah karya sastra lama yang berisi cerita tentang perjalanan atau pelayaran seseorang dari satu tempat ke tempat lain. Contoh: Kisah Perjalanan Abdullah ke Negeri Kelantan, Kisah Abullah ke Jeddah, dan lain-lain.

Dari jenis-jenis cerita di atas, ada juga yang dikhususkan sebagai cerita anak. Yang termasuk cerita anak dari khasanah prosa lama antara lain: cerita binatang (contohnya Cerita Kancil dan Buaya, Burung Gagak dan Serigala, dan lain-lain), cerita noodlehead (contohnya: Cerita Pak Kodok, Pak Pandir, PakBelalang, Si Kabayan, dan lain-lain).

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar