Sabtu, 30 Maret 2013

Membaca Prosa Fiksi




Dalam sebuah pertemuan sastra, seorang yang biasa bergelut di bidang eksak menyatakan bahwa orang yang membaca karya prosa sedang melakukan pekerjaan yang sia-sia dan tak ada artinya karena menghabiskan waktu hanya untuk membaca khayalan. Benar, karya berupa prosa-fiksi memang merupakan cerita rekaan, khayalan. Ia adalah hasil imajinasi pengarangnya. Namun, benarkah imajinasi tak ada manfaatnya? Tentu saja pendapat ini tidak benar sebab jika mau disadari, kehidupan dunia berkembang karena imajinasi orang-orang jenius. Sebagai contoh, bukankah teori gravitasi bumi ditemukan ilmuwan Issac Newton karena imajinasinya setelah melihat buah apel jatuh dari pohonnya?
Penemuan-penemuan di bidang teknologi pun pada awalnya terjadi karena imajinasi. Dari mulai penemuan kapal terbang hingga pesawat ulang alik, dari televisi hingga program-program komputer paling canggih saat ini, pada awalnya terjadi karena imajinasi. Juga, bukankah lambang-lambang yang digunakan dalam bidang matematika, angka-angka misalnya, adalah bentuk-bentuk imajinasi? Dengan bukti-bukti di atas, tentulah kita tak bisa menganggap remeh imajinasi. Imajinasi sangat bermanfaat dalam kehidupan, termasuk imajinasi yang ada dalam cerita rekaan (karya fiksi). Cerita rekaan, karena mengandung imajinasi, dapat memperkaya imajinasi pembacanya. Kekayaan imajinasi ini akan membantu manusia lebih cerdas dan kreatif dalam membangun kehidupan. Di samping itu, sudah menjadi naluri/kebutuhan manusia menyukai cerita. Dalam berbagai masyarakat tradisional, muncul cerita-cerita mythe, legenda, dan lain-lain. Orang pun bisa tahan berjam-jam (bahkan semalam suntuk) untuk menonton pertunjukan wayang. Lalu mengapa, orang bisa tahan membaca novel seharian sementara membaca buku-buku ilmu pengetahuan cepat merasa jenuh? Hal itu terjadi karena dari cerita rekaan/prosa-fiksi orang mendapat hiburan. Tetapi, manfaat cerita prosa lebih dari itu. Ia tidak hanya menghibur, tetapi juga berguna, atau yang diistilahkan filsuf Horace, dulce et utile.
Cerita prosa bukan hanya berfungsi sebagai sarana hiburan. Cerita prosa adalah sarana kita untuk bercermin tentang kehidupan. Benar bahwa yang disajikan dalam cerita prosa adalah hasil imajinasi pengarang. Akan tetapi, imajinasi tersebut adalah hasil olahan pengarang dari apa yang dihayatinya dari realitas (kenyataan). Dalam karya prosa, sesungguhnya pengarang menyuguhkan kembali hasil pengamatan dan pengalamannya kepada pembaca. Pengalaman yang disuguhkannya itu adalah pengalaman yang sudah melalui proses perenungan dan pemahaman yang lebih tajam dan dalam. Dengan demikian, tatkala pembaca mambaca karya prosanya, ia mendapatkan suatu pandangan baru tentang kehidupan yang memperkaya amatannya terhadap kehidupan yang ia kenal sehari-hari.
Dalam kaitan ini, karya prosa sesungguhnya membantu pembaca untuk lebih memahami kehidupan dan memperkaya pandangan-pandangan tentang kehidupan. Memang, hal seperti ini bisa pula didapatkan dari bidang-bidang lain, filsafat misalnya, tapi, karena karya prosa menyuguhkannya dalam bentuk cerita, lewat penggambaran peristiwa-peristiwa, lewat penggambaran tokoh-tokohnya yang bermacam-macam karakter, dan lain-lain, gambaran tentang kehidupan itu akan terasa lebih hidup dan lebih menyentuh. Selain itu, tidak semua hal dalam hidup ini bisa kita alami sendiri. Apa yang tidak bisa dan tidak sempat kita alami itu dapat diperoleh melalui prosa. Tidak semua orang tahu bagaimana kehidupan kaum gembel atau kehidupan di perkampungan-perkampungan kumuh. Sekali lagi, dari prosa kita akan mendapat gambaran itu secara lebih hidup dan lebih menyentuh sebab prosa menyuguhkannya dalam segala sisinya: perasaan-perasaannya, harapannya, penderitaannya, dan lain-lain. Adapun sejarah atau sosiologi hanya menyajikannya pada tingkat formal. Dengan demikian, karya prosa sesungguhnya memperkaya wawasan dan pengetahuan pembacanya. Media pengungkapan karya prosa adalah bahasa. Dalam menyajikan cerita dalam karyanya, pengarang berupaya menyuguhkannya dalam bahasa yang dapat menyentuh jiwa pembacanya. Untuk mencapai hal itu, para pengarang berupaya mengolah bahasa dengan sabaik-baiknya dan sedalam-dalamnya agar apa yang disampaikannya kuat mengena di hati pembaca. Mereka mencari kosakata-kosakata yang tepat yang dapat mewakili apa yang mereka inginkan, menciptakan ungkapan-ungkapan baru, menvariasikan struktur kalimat, memberi penggambaran-penggambaran yang hidup dengan bahasa, dan seterusnya. Dengan membaca karya yang telah mengandung bahasa yang terolah tersebut, pembaca diperkaya bahasanya, diperkaya rasa bahasanya, dan sebagainya.
Tentulah masih banyak manfaat-manfaat dari membaca (mengapresiasi) karya prosa. Intensitas kita membaca karya prosa, pada gilirannya akan mempertajam kepekaan kita; kepekaan sosial, kepekaan religi, kepekaan budaya, dan lain-lain.
1.      Membaca Karya Sastra
Membaca sastra digolongkan kedalam membaca estetis yaitu membaca yang berhubungan dengan seni atau keindahan. Dalam membaca sastra, pembaca dituntut untuk mengaktifkan daya imajinasinya dan kreativitasnya agar dapat memahami dan menghayati isi bacaan. Setelah membaca sebuah karya sastra pembeca akan memperoleh pengetahuan dan pengalaman melalui karya sastra yang dibacanya. Di sinilah letak kelebihan pembaca karya sastra dibandingkan pembaca karya-karya lain.
Prosa fiksi sebagai sebuah cerita rekaan yang biasa juga disebut sebagai cerita rekaan memiliki fungsi untuk memberitahukan kepada pembaca tentang suatu kejadian atau peristiwa yang mungkin ada dalam kehidupan nyata. Unsur-unsur prosa fiksi seperti yang sudah dipelajari dalam mata kuliah sastra mencakup tema, tokoh, alur, seting atau latar, gaya, dan sudut pandang.
Dalam karya prosa fiksi terkandung sebuah amanat yang dibungkus oleh unsur-unsur cerita tersebut.
2.      Teknik Membaca Prosa Fiksi
Mengapresiasi sastra, dalam hal ini karya prosa-fiksi, dapat dilakukan dengan berbagai cara, yaitu:
a.       Menyimak/menonton pembacaan atau dramatisasi cerpen/novel cerita rakyat, atau bentuk lainnya seperti monolog, yang dilakukan secara langsung atau lewat media elektronik;
b.      Mendengarkan dongeng, baik secara langsung, maupun melalui rekaman; dan
c.       Membaca cerpen/novel/cerita rakyat secara langsung dari teks-nya.
Membaca karya sastra memiliki banyak tujuan, namun dalam rangka belajar dan pembelajaran, membaca karya sastra hanya memiliki 2 tujuan, yaitu untuk melakukan apresiasi dan memberi kritik atau penilaian. Jadi teknik membaca prosa fiksi di sini bertujuan dalam rangka membaca untuk keperluan apresiasi.
3.      Kompetensi yang akan diraih dalam kegiatan membaca prosa fiksi atau membaca cerita rekaan adalah:
1.      Memahami dan menghayati semua yang dituangkan pengarang dalam ceritanya sehingga pembaca dapat menangkap isi cerita
2.      Dapat menganalisis unsur-unsur cerita sehingga tertangkap tema dan amanat yang disampaikan oleh pengarang; dan
3.      Dapat menceritakan kembali isi cerita dengan baik, dan pada akhirnya dapat menilai cerita rekaan yang dibaca dengan memberi penilaian mengenai bagus atau tidak baguskah cerita tersebut.

4.      Langkah-langkah Membaca Prosa Fiksi
Membaca prosa fiksi atau cerita rekaan untuk tujuan menangkap isi cerita dilakukan melalui langkah-langkah sebagai berikut.
1.      Membaca cerita secara keseluruhan.
2.      Menandai dan mencari makna kata-kata sulit.
Membaca prosa fiksi dengan tujuan untuk mengapresiasi, dilakukan langkah-langkah seperti di atas di tambah dengan menganalisis cerita dengan cara mengidentifikasi unsur-unsur cerita dan memahami karakteristik setiap unsur cerita tersebut. Misal unsur tokoh, di sini pembaca mengidentifikasi bagaimana watak para tokoh, apa saja yang dilakukan para tokoh, bagaimana para tokoh menyikapi segala permasalahan yang dihadapi, dan sebagainya.
Peran unsur-unsur cerita ini saling terkait satu dengan yang lainnya, sehingga jalinan peran antarunsur cerita yang disusun pengarang cerita tersebut membentuk suatu keutuhan yang membantu pembaca dalam memahami, menikmati, dan menghayati karya tersebut.
5.      Teknik Membaca (ECOLA) Dalam Membaca Novel
ECOLA (Extending Concept Through Language Activities) dikembangkan oleh Smith-Burke (1982). Teknik ini mengintegrasikan 4 keterampilan berbahasa, yaitu membaca, menulis, menyimak, dan berbicara. Dalam hal ini, teknik ECOLA akan diaplikasikan pada keterampilan membaca karya sastra, yakni novel. Tahap-tahap teknik ECOLA yaitu:
1.      Menentukan tujuan yang komunikatif
Tahap pertama sebelum membaca novel, diharuskan terlebih dahulu untuk menentukan tujuan dari membaca.
2.      Membaca Dalam Hati
Pada tahap ini, pembaca harus memiliki kesadaran menemukan ide-ide bacaan yang selaras dengan tujuan membaca. Tentu saja ide-ide bacaan ini didasarkan pada latar belakang pengetahuan pembaca tentang hal yang berkaitan dengan novel yang akan dibaca.
3.      Mewujudkan pemahaman melalui aktivitas menulis
4.      Menulis dan Membandingkan
Sebelum menginjak tahap ini, pembaca diharuskan mengadakan diskusi bersama agar tidak terpaku pada satu pendapat saja. Karena dengan adanya diskusi, memungkinkan adanya interpretasi-interpretasi baru sehingga menambah wawasan pembaca.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar