Rabu, 17 Juli 2013

jurnal artikel

ANALISIS UNSUR NILAI MORAL DAN NILAI SOSIAL TERHADAP KUMPULAN CERPEN “DELAPAN PERI” KARYA SITTA KARINA
Sumarni
B1C110058

Pendidikan Bahasa, Sastra Indonesia dan Daerah
Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan
Universitas Bale Bandung

Abstrak Penelitian ini mengkaji unsur nilai moral dan nilai sosial yang terdapat pada kumpulan cerpen “Delapan Peri” karya Sitta Karina. Setiap orang pada umumnya memiliki pendapat dan penafsiran yang berbeda terhadap suatu cerpen. Unsur ekstrinsik adalah segala unsur luar yang melatarbelakangi penciptaan karya sastra. Nilai moral yaitu nilai-nilai dalam cerita yang berkaitan dengan akhlak/perangai atau etika. Nilai moral dalam cerita bisa jadi nilai moral yang baik, bisa pula nilai moral yang buruk/jelek. Nilai sosial yaitu nilai-nilai yang berkenaan dengan tata pergaulan antara individu dalam masyarakat. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif. Metode deskriptif adalah suatu metode dalam penelitian status kelompok manusia, suatu objek, suatu set kondisi, suatu sistem pemikiran, ataupun suatu kelas peristiwa pada masa sekarang. Dalam analisis kumpulan cerpen “Delapan Peri” karya Sitta Karina ini, banyak mengandung nilai moral dan nilai sosial yang dapat di ambil dan di pelajari oleh para pembaca.
Kata kunci : sastra, cerpen, analisis, nilai moral dan nilai sosial.
A.    Pendahuluan
Cerita pendek (cerpen) sebagai salah satu jenis karya sastra ternyata dapat memberikan manfaat kepada pembacanya. Di antaranya dapat memberikan pengalaman pengganti, kenikmatan, mengembangkan imajinasi, mengembangkan pengertian tentang perilaku manusia, dan dapat menyuguhkan pengalaman yang universal. Pengalaman yang universal itu tentunya sangat berkaitan dengan hidup dan kehidupan manusia serta kemanusiaan. Ia bisa berupa masalah perkawinan, percintaan, tradisi, agama, persahabatan, sosial, politik, pendidikan, dan sebagainya. Jadi tidaklah mengherankan jika seseorang pembaca cerpen, maka sepertinya orang yang membacanya itu sedang melihat miniatur kehidupan manusia dan merasa sangat dekat dengan permasalahan yang ada di dalamnya. Akibatnya, si pembacanya itu ikut larut dalam alur dan permasalahan cerita. Bahkan sering pula perasaan dan pikirannya dipermainkan oleh permasalahan cerita yang dibacanya itu. Ketika itulah si pembacanya itu akan tertawa, sedih, bahagia, kecewa, marah, dan mungkin saja akan memuja sang tokoh atau membencinya.
Jika kenyataannya seperti itu, maka jelaslah bahwa sastra (cerpen) telah berperan sebagai pemekat, sebagai karikatur dari kenyataan, dan sebagai pengalaman kehidupan, seperti yang diungkapakan Saini K. M. (1989:49). Oleh karena itu, jika cerpen dijadikan bahan ajar di kelas tentunya akan membuat pembelajarannya lebih hidup dan menarik.
Rumusan Masalah
Penulis dapat merumuskan masalah sebagai berikut : a) Bagaimana unsur nilai moral dan nilai sosial yang terdapat dalam kumpulan cerpen “Delapan Peri” karya Sitta Karina? b) Apakah kumpulan cerpen “Delapan Peri” karya Sitta Karina bisa dijadikan bahan ajar pembelajaran sastra di tingkat SMA/sederajat?
Tujuan
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui unsur nilai moral dan nilai sosial yang terdapat dalam kumpulan cerpen “Delapan Peri” karya Sitta Karina dan untuk mengetahui bahwa kumpulan cerpen “Delapan Peri” karya Sitta Karina bisa dijadikan bahan ajar pembelajaran sastra di tingkat SMA/sederajat.
Manfaat
Melalui jurnal artikel ini diharapkan pembaca atau audien dapat mengetahui unsur nilai moral dan nilai sosial yang terdapat dalam kumpulan cerpen “Delapan Peri” karya Sitta Karina, dan dapat menjadikannya sebagai bahan ajar pembelajaran sastra di tingkat SMA/sederajat.
B.    Tinjauan Pustaka
1.    Pengertian Unsur Ekstrinsik
Unsur ekstrinsik adalah segala unsur luar yang melatarbelakangi penciptaan karya sastra. Ia merupakan milik subjektif pengarang yang bisa berupa kondisi social, motivasi, tendensi yang mendorong dan mempengaruhi kepengarangan seseorang.
Unsur ekstrinsik (extrinsic) adalah unsur-unsur yang berada di luar karya sastra itu, tetapi secara tidak langsung mempengaruhi bangunan atau sistem organisme karya sastra (Nurgiyanto, 2009: 23).
2.    Cara Mengidentifikasi Nilai Moral dan Nilai Sosial dalam Sebuah Cerpen
Nilai-nilai adalah nasihat atau pelajaran berharga yang dapat diperoleh pembaca atau penikmat dari cerita yang dibaca atau dinikmatinya. Dengan pengertian ini, maka nilai-nilai dalam cerita memiliki persamaan dengan amanat yang sudah kita pelajari. Perbedaannya, kalau amanat adalah nasihat yang ingin disampaikan pengarang melalui tema cerita, sedang nilai-nilai adalah nasihat yang didapat oleh pembaca atau penikmat cerita (sastra atau nonsastra) dari cerita yang dibaca atau dinikmatinya. Amanat selalu terdapat pada cerita itu sendiri sehingga termasuk unsur intrinsik. Karena nilai-nilai diperoleh pembaca atau penikmat karya sastra dari cerita yang dibacanya, maka nilai-nilai dalam karya merupakan unsur luar (ekstrinsik) sastra. Selain itu, nilai-nilai yang diperoleh pembaca atau penikmat cerita dapat berbeda-beda antara pembaca atau penikmat yang satu dengan yang lain. Itulah sebabnya, nilai-nilai termasuk unsur ekstrinsik.
Nilai-nilai moral merupakan nasihat-nasihat yang berkaitan dengan budi pekerti, perilaku, atau tata susila yang dapat diperoleh pembaca dari cerita yang dibaca atau dinikmatinya.
Nilai-nilai sosial adalah nasihat-nasihat yang berkaitan dengan kemasyarakatan yang dapat diperoleh pembaca dari cerita yang dibaca atau dinikmatinya.
3.    Analisis Unsur Nilai Moral dan Nilai Sosial
a.    Nilai Moral
Nilai moral yaitu nilai-nilai dalam cerita yang berkaitan dengan akhlak/perangai atau etika. Nilai moral dalam cerita bisa jadi nilai moral yang baik, bisa pula nilai moral yang buruk/jelek.
Secara umum moral menyaran pada pengertian (ajaran tentang) baik buruk yang diterima umum mengenai perbuatan, sikap, kewajiban, dan sebagainya; akhlak; budi pekerti; susila (KBBI, 2008). 
b.    Nilai Sosial
Nilai sosial yaitu nilai-nilai yang berkenaan dengan tata pergaulan antara individu dalam masyarakat.
Secara umum sosial berkenaan dengan masyarakat; suka memperhatikan kepentingan umum (suka menolong, menderma, dan sebagainya) (KBBI, 2008).

C.    Metodologi Penelitian
Metode deskripsi adalah suatu metode dalam penelitian status kelompok manusia, suatu objek, suatu set kondisi, suatu sistem pemikiran, ataupun suatu kelas peristiwa pada masa sekarang.
Whitney (1960) berpendapat, metode deskriptif adalah pencarian fakta dengan interpretasi yang tepat. Penelitian deskriptif mempelajari masalah-masalah dalam masyarakat, serta tata cara yang berlaku dalam masyarakat serta situasi-situasi tertentu, termasuk tentang hubungan, kegiatan-kegiatan, sikap-sikap, pandangan-pandangan serta proses-proses yang sedang berlangsung dan pengaruh-pengaruh dari suatu fenomena.
Dalam metode deskriptif, peneliti bisa saja membandingkan fenomena-fenomena tertentu sehingga merupakan suatu studi komparatif. Adakalanya peneliti mengadakan klasifikasi, serta penelitian terhadap fenomena-fenomena dengan menetapkan suatu standar atau suatu norma tertentu, sehingga banyak ahli meamakan metode ini dengan nama survei normatif (normatif survei). Dengan metode ini juga diselidiki kedudukan (status) fenomena atau faktor dan memilih hubungan antara satu faktor dengan faktor yang lain. Karenanya mentode ini juga dinamakan studi kasus (status study).
Metode deskriptif juga ingin mempelajari norma-norma atau standar-standar sehingga penelitian ini disebut juga survei normatif. Dalam metode ini juga dapat diteliti masalah normatif bersama-sama dengan masalah status dan sekaligus membuat perbandingan-perbandingan antarfenomena. Studi demikian dinamakan secara umum sebagai studi atau penelitian deskritif. Perspektif waktu yang dijangkau, adalah waktu sekarang atau sekurang-kurangnya jangka waktu yang masih terjangkau dalam ingatan responden.
D.    Hasil dan Pembahasan Penelitian
1.    Tabel Analisis
No    Karya Sastra    Unsur Ekstrinsik    Bukti Pernyataan
        Nilai Moral     Nilai Sosial   
1.     Cerpen “Setoples Kemabang Gula Bernama Pilihan”    Nilai moral yang terdapat dalam cerpen ini adalah moral baik, suka menolong, seperti Amira yang suka menolong mamanya.    Nilai sosial yang terdapat dalam cerpen ini adalah disini Amira menjadi anak yang kurang bersosialisasi dengan teman yang sejenis, dia lebih memilih berteman dengan anak laki-laki.    •    Nilai Moral: Sepulang sekolah, Amira bantui Mama di dapur mempersiapkan pesanan catering harian yang biasa diantar ke rumah-rumah sekitar kompleks. Hari ini asisten Mama nggak masuk, jadi Amira ikut turun ke dapur yang asyiknya dapat upah per jam dari Mama. Kelak ia ingin seperti Mama yang selalu mengapresiasi tiap keringat yang diteteskan pegawainya, walau itu anaknya sendiri.
•    Nilai Sosial: Dan hebatnya, dua gosip itu justru diembuskan oleh mereka sendiri. Prisia ngomongin Gaby; Gaby ngomongin Prisia. Males banget, kan? Itu salah satu alasan Amira gak suka punya BFF cewek: mulutnya gak bisa dijaga. Dengan Reimer dan Shakti semua terasa simpel karena pola pikir dan prinsip bertindak cowok pada umumnya sederhana, blak-blakan, gak intimidating, dan gak dimasukin ke hati.
2.    Cerpen “Thong”    Nilai moral yang terdapat dalam cerpen ini adalah moral buruk, tidak menghargai hasil kerja keras orang lain.    Nilai sosial yang terdapat dalam cerpen ini adalah kehidupan seorang pelajar, yang mengguanakan waktu luangnya untuk magang dan mendesain sepatunya sendiri.    •    Nilai moral: “Caroline, rangkaian bunga lilinya norak sekali. Kok milih lili sih? Lilies are so last-year!”
“Zaldi, sudah gue bilang berkali-kali, jangan pernah undang band itu. Gaya bermusik mereka kampungan. Selera lo dahsyat banget sih!”
“Catering yang elo pakai apa, sih, Fletta? Kok makanannya kayak di pinggir jalan begini? Emang gue pernah nyuruh bawa warteg disini?”
•    Nilai Sosial: Lebih lanjut lagi, Sausan yang mengaku mendapat banyak influence dari Tory Burch dalam mendesain sandalnya, belum berencana membuat koleksi cantiknya ini menjadi produksi massal mengingat ia masih mendahulukan kegiatan sekolahnya. Selain berkiprah sebagai entrepreneur, Sausan mengisi waktu luangnya dengan magang di Plum Sky Bookstore.
3.    Cerpen “Wish You Were Here...”    Nilai moral yan terdapat dalam cerpen ini adalah moral buruk, sifat Stina yang egois yang mengutamakan kepentingannya sendiri di banding orang lain.    Nilai sosial yang terdapat dalam cerpen ini adalah hubungan persahabatan yang merenggang karena keegoisan seorang Stina.    •    Nilai Moral: Mereka semua jadi gitu karena Stina, Stina menyadari itu! Tapi ia tidak pernah mau membuka matadan melihatnya. Ia selalu menyangkal realita yang perlahan-lahan menggerogoti persahabatan mereka sampai akhirnya empat sekawan benar-benar punah.
•    Nilai sosial: Stina ingat bagaimana ia, Mimi, Girindra dan Banyu, si empat sekawan yang kompak. Mereka berjanji akan berlibur ke sini delapan tahun lagi ketika mereka sudah dewasa dan nggak perlu ribet-ribet izin ama bokap-nyokap masing-masing. Namun kenyataannya, berhadapan dengan pemandangan indah menjelang matahari terbenam ini, Stina hanya berdiri seorang diri.
4.    Cerpen “Gips Cinta Buat Jehan”    Nilai moral yang terdapat dalam cerpen ini adalah moral baik, sikap seorang ibu yang mengerti akan keinginan anaknya, selalu mendukung, dan menyemangati anak-anaknya.    Nilai sosial yang terdapat dalam cerpen ini adalah hubungan kelurga yang harmonis.    •    Nilai Moral: Selama ini Bunda tidak pernah mengatakannya pada Jehan karena bliau paham masa pemulihan Jehan yang bukan hanya kakinya, melainkan juga hatinya. Bunda tahu Jehan butuh waktu untuk melewati proses tidak enak ini. Maka itu Bunda memberi excuse... untuk kali ini tidak apa-apa kalau Jehan merasa hancur. Seluruh keluarga mengerti, dan seluruh keluarga akan membantunya bangkit kembali.
•    Nilai Sosial: Keluarga Hendardi punya kebiasaan unik, yaitu kalau suasana fun dan ceria atau ingin membicarakan cerita serta kabar baik maka mereka melakukannya di resto Pizza Mania. Jadi kalau ke Pizza Mania nggak boleh ada yang pasang muka murung atau manyun.
5.    Cerpen “50:50”    Nilai moral yang terdapat dalam cerpen ini adalah moral buruk, sombong seperti Arka yang selalu menganggap dirinya hebat dan bisa mendapatkan apapun yang dia inginkan.    Nilai sosial yang terdapat dalam cerpen ini adalah saling bersosialisasi dengan siapapun, walaupun dengan orang yang baru dikenal.    •    Nilai Moral: Apapun dilakukannya agar Dimitri mau menjadi pasangannya saat pesta. Mau ditaruh dimana mukanya kalau orang-orang tahu seorang Arkasha ditolak Dimitri, dimalam tahun baru pula.
•    Nilai Sosial: Pada suatu sore yang mendung di rumah Trudi, ia dan sepupunya Tejas menghadiri jamuan pesta kecil yang diadakan untuk menyambut kakak Trudi yang baru kembali ke Indonesia. Di acara itu Trudi mengenalkannya pada Dimitri, seorang cowok bersorot mata sayu, sedih, dengan gaya berpakaian serba hitam, didominasi jaket kulit pengendara Harley-Davidson, tapi bukan gothic, namun ia memiliki tutur kata yang sopan.
6.    Cerpen “Tujuh Cupcake Spesial”    Nilai moral yang terdapat dalam cerpen ini adalah moral buruk, seorang yang mempunyai prasangka buruk terhadap ibu tirinya, yang menganggap semua ibu tiri itu kejam, padahal tidak semua ibu tiri seperti itu.    Nilai sosial yang terdapat dalam cerpen ini adalah bergaul dengan siapa saja tanpa melihat sudahkah kita menonton film yang sama atau hobbi yang sama ataupun usia yang berbeda.    •    Nilai Moral: Bah! Bohong besar. Utina gak percaya ada ibu tiri sebaik bidadari begitu. Apalagi kalau figur itu diwakili oleh wanita se-hip Tante Fiore yang gayanya sama sekali nggak kaya ibu-ibu. Ia yakin selama ini Tante Fiore hanya ca-per, ngebaik-baikin Utina da kakaknya biar ia disayang Ayah. Klise banget. Tipikal ibu tiri. Memangnya Utina nggak pernah nonton Cinderella sebelumnya?
•    Nilai Sosial: Bukan hanya ke Tante Fiore, rupanya Utina juga sudah salah sangka terhadap teman-teman baiknya. Mereka tidak melihat dirinya, berteman dengannya, atas dasar sudah atau belum nonton SATC The Movie. Terutama Tarra dan Irene.
7.    Cerpen “Sekolah Kehidupan”    Nilai moral yang terdapat dalam cerpen inii adalah moral baik seorang Ayah yang mengajarkan pada anaknya bagaimana susahnya mendapatkan uang agar anaknya tidak manja.    Nilai sosial yang terdapat dalam cerpen ini adalah hubungan sosial yang berdasarkan atas kesamaan hobbi dan selera.    •    Nilai Moral: Tapi apa boleh buat, karena tidak ada pilihan lain, aku pun menyanggupi itu. Ayah menyebutkan persyaratan dan aturan mainnya, dimana aku akan mendapatkan kamera itu setelah tiga bulan magang (itu kalau aku bisa bertahan!). Gaji selama tiga bulan tersebut untuk membeli kamera dan sisanya akan dibayarkan Ayah.
•    Nilai Sosial: Aku ibarat Betty Suarez-nya Ugly Betty terdampar di Upper East Side (diam-diam aku menyukai Gossip Girl karena twist ceritanya emang seru). Di sini selera teman-temanku sangat tipikal; semuanya suka Yeah Yeah Yeah dan Kesha. Lantas apakah tidak ada tempat untuk dirinya yang lebih menikmati lagu-lagu bertema humaniora-nya The Killers?
8.    Cerpen “Sparkling Ran”    Nilai moral yang terdapat dalam cerpen ini adalah moral buruk pemain band yang mengajak anak SMA untuk mengkonsumsi obat terlarang.    Nilai sosial yang terdapat dalam cerpen ini adalah saing tolong menolong walaupun bukan dengan teman baik.    •    Nilai Moral: “Wah, gue tersanjung.” Dari belakang rupanya Reggy mendengar percakapan itu. Ia lalu memberikan sebutir pil pink pada Ran. “Gue mau kok, asal kita sama2 minum ini.”
Ran merasa takut setengah mati meneyembunyikan perasaan itu. Ia bilang dirinya mau menelan pil ecstasy asal diperboehkan ke kamar madi dulu. Reggy mengiyakan saja.
•    Nilai Sosial: Diluar dugaan Hanum, Ran mau membantu. Bahkan urusan hotel selesai dalam waktu 2 hari ditangan Ran. Prom bisa diadakan di ballroom Prince Hotel dengan diskon separoh harga dan budget Prom pun bisa dimaksimalkan untuk perlengkapan pesta dan band pendukung.
9.    Cerpen “BFF”    Nilai moral yang terdapat dalam cerpen ini adalah moral baik, dimana Illona yang memiliki sifat penyabar, walau dimaki-maki oleh sahabatnya, tapi dia tetap diam, tidak balas membentaknya.    Nilai sosial yang terdapat dalam cerpen ini adalah persahabatan bisa terjadi karena sering bersama dan tidak ada kata pcah dalam persahabatan.    •    Nilai Moral: Tentu saja Asha bercerita tidak seperti yang Illona harapkan; sahabatnya ini malah marah-marah dan kalimatnya campur-aduk karena ditunggangi emosi. Sisi lain hati Illona terus-menerus menyerukan untuk membalasnya, meneriaki Asha balik. Dan sejujurnya hal itu sangat tempting untuk dilakukan. Illona kan bukan patung yang hanya diam tak bereaksi tatkala dimaki-maki. Tapi, untung nuraninya tidak pernah menyerah. Suara lain dengan tenang membisikinya, sabar dan dengarkan. Tarik nafas dalam-dalam sambil hitung 1 sampai 7, maka emosi dapat terkendali dan pikiran tetap jernih. Carilah penyelesaian yang terbaik.
•    Nilai Sosial: “Memang benar. Tapi di Nasional High ini kita berempat bertemu kan, ngebentuk circle baru?” Illona merespon. Tidak ada yang salah dari pendapat Lettia tersebut, hanya saja ia tidak ingin mereka terpecah jadi beberapa kubu karena kini mereka satu. “Dan kita udah coba namain persahabatan kita ini, dari mulai Flats karena kita berempat suka banget makai sandal flats, sampai ILSA sesuai dengan huruf depan nama kita, tapi semuanya kedengaran aneh. Kaya kita butuh pengakuan untuk bersahabat, padahal kan nggak.”
10.    Cerpen “Goth Is Me”    Nilai moral yang terkandung dalam cerpen ini adalah moral baik suka menolong orang lain dan ringan tangan.    Nilai sosial yang terdapat dalam cerpen ini adalah seorang Quisty yang tidak mudah untuk bersosialisasi dengan orang lain, karena dia merasa tidak percaya diri dengan apa yang ada pada fisiknya.    •    Nilai Moral: Tidak perlu dua kali memperhatikan figur petite Quisty, dia udah tau jawabannya: Qui itu unik dan cantik secara alami (walau ditelan kostum dan aksesoris nuansa hitamnya). Dan yang paling penting di mata Ghanda, cewek ini baik-baik yang dalam artian benar-benar baik hatinya, ringan tangan menolong siapapun yang membutuhkan tanpa pikir panjang.
•    Nilai Sosial: Quisty mematut dirinya di depan cermin, mulai mengevaluasi diri. Kecil, baik tubuh maupun nyalinya. Hmm, apa lagi yang aneh? Banyak! Pertama, bola matanya besar sekali seperti mau loncat keluar. Warnanya pun aneh, agak keabu-abuan. Kedua, kenapa sih ia suka banget warna hitam, kenapa rasanya nyaman sekali memakai baju warna gelap? Ia sendiri tidak tahu alasannya. Hanya suka. Ketiga, kulitnya! Mengapa ia tidak di anugrahi kulit putih nan haus seperti di iklan-iklan produk kecantikan? Bagi Quisty kulitnya begitu pucat sampai-sampai ia nggak pernah berani melayat orang meninggal karena takut ketuker! Menjadi gothic lolita adalah salah, Quisty akhirnya memutuskan. Ia takut suatu saat Ghanda akan menyadari kesalahan itu dan meninggalkannya.
11.    Cerpen “Huruf-huruf yang Melayang”     Nilai moral dalam cerpen ini adalah moral buruk, berprasangka buruk kepada orang lain padahal belum tentu seperti itu, merasa tidak membutuhkan bantuan orang lain, apalagi bantuan dari rivalnya yang akhirnya menimbulkan kedengkian.    Nilai sosial yang terdapat dalam cerpen ini mempunyai hubungan sosial yang baik dan aktif dalam sebuah organisasi.    •    Nilai Moral: Di sebelah Andien, Kendra merasa kalah dalam segala-galanya. Dan keminderan yang berubah jadi dengki itu semakin menjadi-jadi tatkala ia menyadari bahwa brief speech ini adalah momentum yang tepat buat Andien untuk “menggempur” dirinya. Kendra yakin sekali Andien akan bersikap begitu. Kalau tidak, kenapa sejak kemarin Andien selalu “menginterogasi” Moza dan Ganesh perihal ide Kendra? Kenapa tidak tanya langsung ke dirinya? Mencurigakan sekali.
•    Nilai Sosial: Bersama kedua sahabatnya itu, Kendra tergabung dalam Tim Kreatif Panitia FrontStage, acara tahunan SMA mereka yang terkenal dengan aksi nge-band dua belas jam nonstopnya. Tapi karena banyaknya persaingan acara serupa oleh SMA-SMA lain, FrontStage yang kekurangan sponsor jadi nyaris gulung tikar.

2.    Apakah Kumpulan Cerpen “Delapan Peri” karya Sitta Karina Bisa dijadikan Bahan Ajar Pembelajaran Sastra di Tingkat SMA/sederajat?
Kumpulan Cerpen “Delapan Peri” karya Sitta Karina sangat cocok untuk dijadikan bahan ajar pembelajaran sastra di tingkat SMA karena di dalam kumpulan cerpen tersebut, hampir semua ceritanya memceritakan kehidupan dan bagaimana perilaku anak-anak SMA yang sewajarnya. Semua cerita dalam buku ini bagus, spesial, dan inspiratif. Walaupun bercerita tentang remaja namun orang dewasa juga bisa membacanya, bahkan mungkin bisa ikut terinspirasi. Didalamnya juga terdapat nilai-nilai moral dan sosial yang dapat di ambil dan dipelajari oleh para pembaca terutama anak-anak seusia SMA. Pelajaran tentang kehidupan, tentang diri sendiri, orang lain, masyarakat dan bangsa.
E.    Kesimpulan dan Saran
1.    Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan di atas dapat dikemukakan beberapa kesimpulan penelitian ini sebagai berikut: a) Nilai-nilai moral yang terdapat dalam kumpulan cerpen “Delapan Peri” karya Sitta Karina kebanyakan mengandung moral buruk tapi ada juga moral baiknya. Maka ambillah sisi baiknya, jangan ikuti sisi buruknya, b) Nilai-nilai sosial yang terdapat dalam kumpulan cerpen “Delapan Peri” karya Sitta Karina sangat beragam. Ada yang memiliki hubungan sosial yang baik ada juga yang tidak baik, ada yang mudah untuk bersosialisasi ada juga yang menutup dirinya untuk bersosialisasi dengan orang lain, dan c) Kumpulan cerpen “Delapan Peri” karya Sitta Karina sangat cocok untuk pembelajaran sastra di tingkat SMA karena isi ceritanya menceritakan semua tentang apa-apa saja yang terjadi pada kehidupan anak sekolah terutama tingkat SMA.
2.    Saran
Dalam membaca sebuah cerpen sebaiknya kita tidak hanya sekedar membaca saja, kita harus bisa menganalisis unsur-unsur yang terdapat dalam cerpen tersebut. Terutama unsur nilai-nilai yang terkandung didalamnya agar kita bisa lebih memahami isi cerita tersebut dan dapat menjadikannya sebagai bahan pertimbangan untuk pembelajaran dalam kehidupan.
Daftar Pustaka
Batuah, Malin. 2012. Unsur Ekstrinsik Cerita (Cerpen/Novel). http://bahasaindonesiayh.blogspot.com/. 14 April 2012.
Cantika, Putri. 2011. Mengidentifikasi Unsur Intrinsik dan Ekstrinsik dalam Sebuah Cerpen. http://putricaantika.blogspot.com/. 07 November 2011.
Karina, Sitta. 2010. Delapan Peri. Jakarta: Terrant.
KBBI. 2008. KAMUS BESAR BAHASA INDONESIA PUSAT BAHASA Edisi Keempat. Jakarta: PT. Gramedia.
Muttaqin, M. Imamul. 2010. Metode Deskriptif. http://blog.uin-malang.ac.id/muttaqin/. 28 November 2010.
Nurgiyantoro, Burhan. 2009. Teori Pengkajian Sastra. Yogyakarta: Gajah Mada University Press.
Ramadhani,Rachma. 2013. Unsur Instrinsik dan Ekstrinsik Cerpen. http://rachmaramadhani.blogspot.com/. 18 Mei 2013.
Suryabrata, Sumadi. 1990. Metodologi Penelitian. Jakarta: CV. Rajawali.
Virgo, Dila. 2013. Nilai-nilai Pendidikan dalam Cerpen. http://dfeminis.blogspot.com/. 28 Januari 2013.
Yusransyah, Muhammad. 2012. Mengidentifikasi Unsur-Unsur Ekstrinsik Cerita (Nilai Moral Dan Sosial). http://blogpendidikanbahasa.blogspot.com/. 10 Agustus 2012.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar